Friday

Bagaimana Memberi dan Menerima Cinta


Tau tidak kawan.. Banyak diantara kita, menyesali perkataannya. Namun tak banyak di antara kita yang menyesali, di kala kemungkaran atau kesalahan berlaku.. dan dia hanya diam. Kondisi selemah-lemahnya iman. Akankah selamanya kawan..??

Selaku manusia, tak siapapun kan terlepas dari khilaf dan salah. Aku, kamu, mereka.. semuanya punya masa, dimana pernah melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan. Di kala itulah.. kehadiranmu di sisiku.. keberadaanku di dekatmu, menjadi bermanfaat dan menerima manfaat. Itulah masanya bagi kita, saling membuktikan kasih sayang kita pada teman, sahabat atau saudara kita. Saatnya untuk memberi dan menerima nasihat.

Apapun posisi kita nantinya kawan, sebagai penasihat atau yang dinasihati. Keduanya harus memperhatikan beberapa hal. Yang akan membuat aktivitas nasihat-menasihati, menjadi benar-benar bermanfaat dan berkah.

Selama ini, nasihat yang kita kenal, adalah sesuatu yang baik bukan. Ternyata, nasihat itu ada pula yang tidak baik kawan. Ialah nasihat, yang menunjukkan pada keburukan dan untuk kedustaan. Ingatkah, ketika syaithan menggoda Nabi Adam dan Hawa untuk memakan buah terlarang. Digambarkan dalam Al Qur’an,

”Dan dia (syaithan) bersumpah kepada kepada keduanya. ”Sesungguhnya aku ini, benar-benar termasuk para penasihatmu.” (Al A’raf:21)

Atau mari menengok kisah saudara-saudara Nabi Yusuf,

”Mereka berkata, ”Wahai ayah kami. Mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya.” (Yusuf:11)

Keduanya adalah nasihat yang buruk kawan. Mengajak pada yang buruk, dan demi satu hal dusta.

Mata kita ini, seringkali menangkap sesuatu yang tidak baik pada diri teman, sahabat atau saudara kita. Satu kemungkinan yang tak boleh terjadi kawan, adalah menceritakannya kepada orang lain. Namun, katakanlah hal itu langsung kepadanya. Dan perhatikan yang ini kawan, agar nasihat, berbuah kebaikan:

1. Muatan nasihatmu
2. Cara untuk menasihati
3. Media yang akan kau gunakan
4. Adab menyampaikan nasihat
5. Suasana dan status sosial penerima nasihat
6. Target dari nasihatmu

Imam Syafi’i, menguraikannya dalam sebuah sya’ir

Biasakanlah nasihatmu

Disampaikan dalam kesendirianku

Dan hindarilah

Menyampaikan nasihat di perkumpulan orang

Karena sesungguhnya

Nasihat di tengah orang banyak

Merupakan suatu bentuk penghinaan

Yang tidak aku relakan untuk mendengarkannya

Jika engaku menyalahi

Dan melanggar ucapanku ini

Maka janganlah kecewa

Jika nasihatmu.. tidak dita’ati

Jika di satu waktu, kita adalah orang yang menasihati. Maka bersiaplah kawan. Di masa yang lain, kita akan berperan sebagai yang dinasihati. Lapangkan hati, luaskan jiwa.

Berkacalah dengan penuh rela.. di sebuah telaga kritik dan teguran

Anggaplah teguran sebagai hadiah Rabbaniyyah, yang ditujukan kepadamu, demi satu perbaikan bagimu. Hingga tak akan kau rugi dengannya.

Kemudian, anggaplah teguran itu, adalah tanda kasih sayang dari teman, sahabat atau saudara kita, yang tak menginginkan kita dilihat keburukannya oleh orang lain. Sehingga ia sampaikan kebenaran meskipun pahit, kawan.

Dan anggaplah teguran sebagai guru lapangan, yang kan menjadi pelajaran bagi kita di tengah perjalanan kehidupan. Semakin banyak guru bernama ’teguran’ mampir dalam kehidupan kita. Maka semakin banyak yang bisa kita perbaiki. Sungguh beruntungnya kita kawan.

Dalam sabdanya, Rasuulullaah berkata,

”Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, ialah berdzikir kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi, saling menyadarkan satu sama lain dan menyantuni saudara-saudaranya yang memerlukan.” (HR Ad Dailani)

”Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika terlihat aib pada saudaranya, maka ia segera memperbaikinya.” (HR Bukhari)

sumber : http://haxims.blogspot.com